Sebelum langit dibentangkan, sebelum waktu mengenal detiknya, sebelum bintang-bintang menemukan nyalanya, para arif dalam jalan tasawuf mengisahkan bahwa semesta bermula dari sebuah kerinduan Ilahi. Sebuah kehendak agung yang sering dinukil dalam kalimat suci: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
Maka dari kehendak untuk dikenali itulah, cahaya pertama dipancarkan. Cahaya yang oleh para arif disebut sebagai Nur Muhammad, bukan sekadar sosok manusia, melainkan hakikat cahaya pertama; benih kesadaran, poros kasih, dan mata air makna bagi seluruh penciptaan. Dari cahaya itulah semesta berkembang: langit dan bumi, matahari dan rembulan, tanah dan air, hingga jiwa manusia yang membawa percikan rahasia-Nya.
Para arif memandang bahwa alam bukan benda mati yang terpisah dari Tuhan, melainkan pancaran tanda-tanda-Nya. Gunung adalah kekokohan-Nya, laut adalah keluasan-Nya, dan cahaya pada hati manusia adalah jejak dari cahaya mula-mula itu. Karena itu, perjalanan hidup sejatinya bukan sekadar mencari dunia, melainkan perjalanan pulang menuju sumber cahaya tersebut.
Namun cahaya itu tidak hanya hadir di awal penciptaan. Ia diwariskan. Mengalir dari hati ke hati. Dari para nabi kepada para wali. Dari para guru kepada murid-muridnya. Dari orang-orang saleh yang menjaga ilmu dan laku hidupnya dengan penuh cinta dan pengabdian.
Cahaya itu bukan diwariskan melalui darah semata, tetapi melalui keteladanan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keberanian menjaga kemanusiaan. Ia hidup dalam tutur yang menenangkan, dalam ilmu yang memerdekakan, dalam doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan demi umat manusia.
Karena itu, ketika kita berjumpa dengan orang-orang saleh, sejatinya kita sedang berjumpa dengan pantulan cahaya purba tersebut. Ada hati yang sebelumnya gelap lalu menjadi terang. Ada jiwa yang sebelumnya letih lalu kembali menemukan arah. Ada manusia yang sebelumnya tercerai-berai di dalam dirinya, lalu kembali utuh.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari hari kelahiran orang-orang saleh. Bukan sekadar memperingati bertambahnya usia mereka, tetapi merayakan hadirnya cahaya yang terus menyalakan banyak jiwa. Sebab setiap kali kita menyerap cahaya dari mereka, melalui nasihatnya, kasihnya, keberaniannya, humornya, atau kebijaksanaannya, sesungguhnya di saat itu pula kita sedang dilahirkan kembali.
Lahir kembali sebagai manusia yang lebih sadar. Lahir kembali sebagai jiwa yang lebih bening. Lahir kembali sebagai hati yang lebih mengenal cinta dan Tuhannya.
Dan di antara sedikit orang yang oleh banyak hati dirasakan membawa nyala itu pada zaman ini adalah Mbah Nun, Emha Ainun Nadjib.
Bagi banyak orang, beliau bukan hanya budayawan, bukan sekadar ulama, bukan pula hanya penyair. Beliau adalah pelita di tengah zaman yang gaduh. Tempat orang-orang kecil menemukan martabatnya. Tempat jiwa-jiwa lelah merasa dipeluk tanpa dihakimi.
Dalam candanya ada hikmah. Dalam kritiknya ada cinta. Dalam kesederhanaannya ada keluasan samudera.
Beliau mengajarkan bahwa agama tidak hidup dalam kebencian, tetapi dalam kemanusiaan. Bahwa ilmu tidak boleh menjauhkan manusia dari kasih sayang. Dan bahwa jalan menuju Tuhan sering kali justru ditemukan melalui pengabdian kepada sesama.
Maka hari kelahiran beliau bukan hanya tentang mengenang tanggal lahir seorang manusia. Ia adalah pengingat bahwa cahaya itu masih menyala. Bahwa di tengah dunia yang sering kehilangan arah, masih ada orang-orang yang menjaga nyala nurani agar manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam gelap.
Selamat hari kelahiran, Mbah Nun. Panutan, dan Si Mbah kami.
Semoga Allah senantiasa menjaga panjenengan dalam limpahan rahmat dan cahaya-Nya. Dan semoga melalui cahaya yang panjenengan nyalakan, kami semua terus dilahirkan kembali menjadi manusia yang lebih jernih, lebih merdeka, dan lebih mencintai kehidupan dan dapat turut memancarkan cahaya itu.[]






