“… Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya…” (Emha Ainun Nadjib, Daur 1 – 18, Hijrah Maiyah)
Separuh perjalanan di tahun 2026 telah kita tapaki bulan ini—memasuki etape ke-6 dari 12 etape rutinan Sinau Bareng Waro’ Kaprawiran yang kita ikhtiarkan untuk senantiasa istiqamah di setiap malam selikuran.
Ponorogo saat ini sedang berada dalam semarak suasana Grebeg Suro, festival budaya dan tradisi tahunan terbesar di Ponorogo dalam menyambut pergantian Tahun Baru Islam. Festival Reyog Remaja, Festival Reyog Nasional, Festival Pencak Silat, pameran pusaka, festival burung perkutut, kirab pusaka, larung sesaji, sima’an Al-Qur’an, istighosah, hingga laku tirakatan di Malam Satu Suro menjadi rangkaian yang mempertemukan seni, budaya, dan spiritualitas.
Akulturasi Bulan Muharram dan Sasi Suro adalah jejak sejarah panjang tentang bagaimana orang Jawa memaknai waktu dan keyakinan. Tahun Jawa lahir pada 1633 Masehi atau 1555 Saka atas prakarsa Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram, sebagai perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriah—sebuah ikhtiar untuk menyatukan kehidupan spiritual umat Islam tanpa memutus akar tradisi Jawa. Sedangkan Tahun Hijriah sendiri dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Maka, pergantian tahun sejatinya bukan hanya pergantian angka, melainkan pengingat tentang perpindahan: dari gelap menuju terang, dari ketakutan menuju harapan, dan dari keterpecahan menuju persaudaraan.
Namun, yakinkah hari ini kita merasa telah jauh meninggalkan zaman jahiliyah, atau justru sedang berada dalam fase jahiliyah modern yang hadir dalam bentuk lebih halus, informasi melimpah kala kebijaksanaan menipis, koneksi semakin dekat tetapi hati makin berjauhan, ibadah ramai dipertontonkan namun kejujuran dan welas asih perlahan menghilang? Jangan-jangan kita hanya mengganti rupa jahiliyah dengan bentuk yang lebih rapi dan modern, sementara hati tetap dipenuhi hal-hal yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya sendiri. Lantas, jika memang dunia terasa semakin gelap, perlukah kita berhijrah membangun kelompok-kelompok sunyi demi menyelamatkan diri, atau justru bertahan di tengah gelap itu sembari berusaha menjadi setitik cahaya—kecil, namun setidaknya memberi keyakinan bahwa terang itu masih ada?
Mungkin hijrah hari ini bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan tentang bagaimana tetap menjaga nurani di tengah dunia yang kesejatian cahaya.
Maka, marilah kita kembali melingkar—menata hati, menjernihkan pikiran, merangkai nilai, merajut makna—menikmati Madunya Bulan Suro, belajar meneladani lebah yang menempuh hijrahnya setiap hari, menyerap intisari kehidupan, menghadirkan manfaat, dan meninggalkan kemaslahatan. Dengan begitu, kita semakin memahami bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dan waktu, melainkan perjalanan untuk terus memanusiakan manusia dan mendekatkan diri kepada kebenaran sejati.








